Sekitar awal bulan Juni kemaren, seorang tetangga tiba-tiba datang kerumah kami dan bertanya apa kami mau memelihara anak anjing. Kebetulan, sudah lama sekali sejak terakhir kali kami sekeluarga punya binatang peliharaan. Mungkin sekitar akhir abad lalu. Hahaha. Dengan sangat bersemangat, saya, Mama, Danny, dan Dave mengiyakan tawaran tetangga tersebut dan beberapa jam kemudian, anak anjing yang kami tunggu akhirnya diantarkan kerumah.
You know what? He is a boy and his fur is toooootes cute! Seluruh tubuhnya berwarna cokelat terang tapi dibagian leher, bulunya berwarna putih, seolah-olah ada syal bulu yang melingkari lehernya. Matanya sayu, telinganya terkulai lemah dan badannya kecil sekali. Kata tetangga saya, dia baru lahir.. Mungkin sekitar seminggu umurnya. Belum bisa makan makanan berat dan belum bisa melihat terlalu jauh.
Gosh, cuteness overload!!
We decided to call him 'Piero'.
Don't know the meaning tho. It was just my mom who suddenly came up with that name.
Di awal kedatangannya, Piero tidak bisa makan apa-apa kecuali minum susu kental manis dan tidur seharian di boks kardusnya. Di malam hari, Piero tidur di kamar saya dan terkadang
pooping (ups, maaf) juga di boks kardusnya. Giliran saya, Danny, dan Dave yang ganti-gantian membersihkan boks kardusnya dan mengganti selimutnya.
Sekitar sebulan setelah kedatangan Piero, tepatnya di tanggal 20 Juli 2015, kami sekeluarga berencana pergi ke pantai untuk merayakan ulang tahun Mama yang ke 50 tahun. Tentu saja saya sangat tidak tega meninggalkan Piero dirumah sendirian. Akhirnya. berbekal sedikit kenekatan, saya mengemasi Piero dan selimutnya dan memasukkannya kedalam tas plastik buat dibawa juga rekreasi ke pantai. Hahaha,
that was one hell of a decision. Saking bersemangatnya saya sampai terjatuh di depan rumah bersama Piero dalam gendongan.
Sepanjang perjalanan, Piero terlihat bingung dan (mungkin) pusing, jadi dia hanya berbaring di dalam tas plastiknya dan terus mengeluarkan lidah. (Mungkin tas plastiknya bikin dia susah nafas,
sorry Piero!)
 |
| gaya tidur favorit Piero, telentang pasrah |
Dan, sesampainya di pantai, Piero langsung rebahan tanpa tenaga. Dia sama sekali tidak terlihat
excited, hahaha. Semua keluarga sibuk mengemasi barang-barang. Tikar digelar, makanan dikeluarkan dari mobil, Danny Dave berlarian di pasir pantai, dan saya hanya memandangi Piero yang tidur terus. Mungkin dia ngantuk karena siang hari adalah jam tidurnya, maklum masih masa pertumbuhan.
Setelah semua selesai makan siang, saya kembali mencoba membangunkan Piero, dan mengajak dia
selfie. Kasian juga sih, sebenarnya. Tapi mau diapa. Masa' datang jauh-jauh ke pantai hanya buat numpang tidur?
Saya udah semangat jepret sana-sini dan Piero hanya merespon dengan tatapan malas dan mata setengah tertutup -__-"
 |
| Sesekali dia buka mata, tapi pandangannya rada 'jutek' ke kamera. |
 |
| Setelah berfoto dia tidur lagi... |
Semakin sore, tidurnya Piero semakin nyenyak, that was when I felt like calling it. Udah cukup tidurnya, sekarang waktunya foto-foto manja di bawah sinar matahari. Saya paksa Piero (malas) buat bangun, dikasi makan ikan dulu (dia sukaaaaaaa sekali sama ikan goreng, mirip kucing I know), then saya gendong dia ke pinggir pantai, diatas pasir.
 |
| His ugly face was really cuuuute!! |
 |
| Dia lebih memilih 'memantau' pantai dari kejauhan. |
His first reaction? Freaked out. Jantung kecilnya berdebar-debar dan dia terlihat ketakutan melihat ombak dan buih-buih air laut. Kalau saya coba turunkan dia didekat air, dia bakal menatap saya dengan pandangan memelas dan lari ke kaki saya lagi. Here is the video:
Akhirnya, setelah beberapa kali mencoba membuat Piero menyukai pantai, saya menyerah dan jadinya mengajak dia selfie saja.
It was a fun trip with my family and with Piero. Thanks for reading, see you on the next post!